
Abdurrahman El Husaini, lahir di Puruk Cahu Kalimantan Tengah, 1 Januari 1965. Disamping menulis puisi juga menulis essay sastra. Karya- karyanya tersebar di Dinamika Berita (sekarang Kalimantan Post), Banjarmasin Post, dan Radar Banjarmasin dan antologi bersama Ragam Jejak Sunyi Tsunami Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa Balai Bahasa Sumatera Utara Medan 2005, Taman Banjarbaru 2006 dan Seribu Sungai Paris Barantai 2006. Sekarang menetap di “kota intan” Martapura, Kalimantan Selatan.
Doa Putih
(Bagi Hamid Jabbar yang pamit duluan)
Hari-hari terasa semakin siang
Warna-warna lampu pucat melukis angin musim yang diam
Dan ketika sinar bulan mengetuk pintu rumahmu
Senyum fana purnamu menulis puisi keabadian
Putih
Seputih rangkaian melati doa yang kutasbihkan di pusaramu
ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WAAFIHI WA’FUANHU
ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WAAFIHI WA’FUANHU
ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WAAFIHI WA’FUANHU
ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WAAFIHI WA’FUANHU
ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WAAFIHI WA’FUANHU
Ziarah waktu
Tersungkur
Mencium
Keningmu
Amin.
Juni 2004
Membaca Jejak Gerimis
(bagi Mochtar Lubis yang pergi duluan)
Berpuluh-puluh tahun
Kubaca jejak gerimis
Dalam perjalanan nafas anak cucu Adam
Dalam kitab perjanjian nasib
Dari tangis pertamamu
Kulihat perahumu bertambat di dermaga waktu
Diam menerjemahkan makna keabadian
Lukisan sudah sempurna
Lukisan sudah sempurna
Lukisan sudah sempurna
Lukisan sudah sempurna
Lukisan sudah sempurna
Kuartikan senyummu
Pada gerak pena kami
Gemetar merajah doa
Di pintu kembali
Saat
Jasadmu
Melayang
Disembahyangkan
Waktu
Pasayangan,030704.
Tangisan batu
Andai dulu aku tidak merantau
Kita akan selalu hidup bersama
Tapi kini aku batu, ibu.
Andai dulu aku menikah dengan gadis pilihanmu
Engkau tentu sudah menimang cucumu
Tapi kini aku batu, ibu.
Andai dulu aku tidak durhaka
Dan engkau tidak berdoa
Dan Tuhan tidak mengutukku
Dan aku masih anakmu
Tapi kini aku batu, ibu.
Tuhan jangan Kau pindahkan surga itu dari telapak kaki ibuku
Meski kini aku batu
Air mata legenda
Air matamu
Air mataku
Melelehkan getah legenda
Pulanglah batu
Air mata membilas mulut busuk ini
Pulanglah batu
Engkau masih anakku
Pulanglah batu
Surga di bawah telapak kaki ini masih milikmu
Air mataku
Air matamu
Melelehkan getah legenda
Banjarbaru 2008
Akrostid in meditation
Rasa rindu ini
Akan kureguk sehabis-habisnya ampas
Hingga laut tawar rasanya
Mabukku mabukku mabukku mabukku mabukku
Akan terus kukunyah hingga limbung tubuhku seperti
Nyanyian doa yang enggan menggapai puncak amin
Rahman
Tuntaskan dahagamu
Selagi Tuhan menuangkan anggurNya ke dalam gelasmu
Banjarbaru 2008
Doa seorang musafir
AllahuAkbar
Bermula dari takbir yang menyamakan gerak dan puja-puji
Kami bersimpuh di haribaanMu wahai Tuhan sekalian alam
Karena sesungguhnya
Kami hina di hadapanMu
Ya Rabbi yang Maha Mulya
Kami lemah di hadapanMu
Ya Rabbi yang Maha Kuat
Kami miskin di hadapanMu
Ya Rabbi yang Maha Kaya
Ya Allah
Ya Karim
Ya Qawi
Ya Ghani
Ya Allah
Tinggikanlah derajat kami
Kuatkanlah iman dan islam kami
Kayakanlah hati kami
Ya Allah
Yang Maha Pengabul segala doa
Amin
Banjarbaru 06/07/08
Pagi buta dalam sajakku
Pagi buta dalam sajakku
Orang-orang menyalakan lampu
Mengusir kabut
Pandangan hanya sejengkal
Memutar roda hidup
Pagi buta dalam sajakku
Matahari mati
Menyisir kabut
Jalan-jalan sepi
Pagi buta dalam sajakku
Embun beku
Melerai kabut
Jalan-jalan masih sepi
Dalam sajakku
Airmata kami tersungkur memohon hujanMu
Martapura 2006
Menunggu hujan tumpah dalam puisiku
Begitulah kutelusuri jejak-jejak asap
Di lahan-lahan gambut membara
Di hutan-hutan ilalang berkelelatu
Kemarau semakin betah
Hujan semakin pongah
HujanMu hujanMu hujanMu hujanMu hujanMu
Aku tak pernah lelah menunggumu
Tumpah dalam puisiku
Martapura 2006
Klik!
Klik!
Jutaan kilometer dari tangisan anak manusia modern
Klik!
Orang-orang mendepositokan triliunan rasa sesal di bank-bank bencana dan cuaca-cuaca yang ekstrim
Klik!
Simpanan jangka panjang yang membahayakan jutaan nyawa
Klik!
Tanam saja pohon air mata anak cucu kami di muka rumah mewahmu
Klik!
Bangun saja monument isak jerit tangis anak cucu kalian di perempatan nama jalan kebesaranmu
Klik!
Mayat-mayat menggali kuburnya sendiri
Klik!
Mayat-mayat mengubur jasadnya sendiri
Klik!
Mayat-mayat menyembahyangkan ruhnya sendiri
Klik!
Klik!
Tak ada demo
Klik!
Tak ada breaking news
Klik!
Tak ada to days dialogue
Klik!
Semua orang panik menyelamatkan diri sendiri
Klik!
Jutaan nyawa bercengkrama
Klik!
Martapura 2008
Mesjid?
Rumah rindu?
Rumah cinta?
Rumah kasih?
Rumah doa?
Rumah siapa?
Martapura 2008